Arsip Kategori: Infrastructure

Pengaturan Timezone di Ubuntu Server

Anda dapat mengecek setelan waktu di server Ubuntu Anda dengan perintah date:

date

Atau Anda juga dapat melihat setelan timezone di /etc/timezone/:

timezone

Untuk mengubahnya, bisa menggunakan sudo dpkg-reconfigure tzdata dan ikuti langkahnya:

set1

Atau:

set2

Speedtest di Ubuntu menggunakan Terminal

Untuk melakukan tes kecepatan koneksi internet, mudah saja kita buka Speedtest.net di browser jika kita menggunakan GUI di OS klien. Tapi bagaimana untuk melakukan tes kecepatan koneksi internet di Ubuntu server?

Kita bisa menggunakan tool kecil berbasis Python: speedtest-cli.

  1. Install python-pip:
    sudo apt-get install python-pip
  2. Install speedtest-cli via python-pip:
    sudo pip install speedtest-cli
  3. Setelah terinstall, kita bisa menggunakannya dengan command:
    speedtest
  4. Hasilnya seperti ini:
    [email protected]:~$ speedtest
    Retrieving speedtest.net configuration...
    Retrieving speedtest.net server list...
    Testing from Microsoft Corporation (x.x.x.x)...
    Selecting best server based on latency...
    Hosted by SGIX (Singapore) [7.42 km]: 1.332 ms
    Testing download speed........................................
    Download: 327.53 Mbits/s
    Testing upload speed..................................................
    Upload: 4.69 Mbits/s
    [email protected]:~$

Selamat mencoba.. 🙂

Membuat Storage Pool di Windows Server 2012 & Windows 8.1

Posting pertama di bulan Juli 2014, saya akan membahas tentang fitur Storage Spaces & Storage Pool. Ada 3 hal yang akan dibahas pada tulisan panjang ini:

  1. Konsep
  2. Membuat Storage Pool di Windows Server 2012
  3. Membuat Storage Pool di Windows 8.1

Jadi, kalau sudah paham konsepnya, boleh langsung lanjut ke pembahasan berikutnya. 😉

Konsep

Apa itu Storage Pool?

Gampangnya, terjemahkan saja ke bahasa Indonesia: kolam penyimpanan. 😀

Contoh kasus: kita punya 4 harddisk fisik. Anggap saja masing-masing 250GB, 500GB, dan 2x1TB. Lalu kita ingin menggunakan keseluruhan spacenya tanpa ada sekat di antara space harddisk. Maka alternatif solusinya bisa ada 2: menggunakan RAID, atau menggunakan fitur Storage Spaces pada Windows Server 2012 & Windows 8.1.

Kali ini kita menggunakan fitur Storage Spaces, sehingga seolah kita mempunyai kapasitas penyimpanan hingga sebesar 2.75TB (250GB + 500GB + 1TB + 1TB). Lalu kita bisa membuat satu atau beberapa virtual harddisk dengan satu atau beberapa volume di atasnya.

Selain itu, membuat storage pool juga bisa meningkatkan keamanan & ketersediaan data walaupun ada harddrive yang rusak.

storagespaces

Secara umum, langkah untuk membuat storage pool adalah sebagai berikut:

  1. Menambah satu atau beberapa physical harddrive ke host.
  2. Membuat storage pool dengan fitur Storage Spaces di Windows Server 2012 atau Windows 8.1.
    Untuk membuat storage pool, kita membutuhkan minimal 1 physical harddrive tambahan selain yang digunakan oleh OS. Akan tetapi, dengan 1 physical harddrive kita tidak bisa membuat virtual harddisk dengan layout mirror & parity.
  3. Membuat virtual harddisk.
    Ada 3 tipe layout virtual harddisk: Simple, Mirror, & Parity yang mirip dengan RAID0, RAID1, dan RAID5.

    • Simple. Data ditulis apa adanya ke harddrive. Layout ini membutuhkan minimal 1 physical harddrive. Kelebihan: memaksimalkan kapasitas storage space serta kecepatan baca-tulis. Kekurangan: ketika harddrive rusak, data hilang.
      simplelayout
    • Mirror. Data diduplikasi ke dua atau tiga harddrive. Layout ini membutuhkan minimal 2 physical harddrive untuk mengamankan data dari salah satu harddrive rusak, dan 5 physical harddrive untuk mengamankan data dari 2 harddrive rusak sekaligus. Kelebihan: ketika salah satu atau dua harddrive rusak, data masih aman. Kekurangan: kapasitas storage space akan lebih banyak digunakan untuk mirroring.
      mirrorlayout
    • Parity. Data dan informasi paritas ditulis ke semua harddrive. Layout ini membutuhkan minimal 3 physical harddrive untuk mengamankan data dari salah satu harddrive rusak,  dan 7 physical harddrive untuk mengamankan data dari 2 harddrive rusak sekaligus.
      paritylayout

    Untuk menggunakan layout mirror & parity, semua physical harddrive yang dijadikan storage pool sebaiknya berkapasitas sama.

    Selain tiga tipe layout, juga ada dua tipe provisioning: Thin Provisioning & Fixed Provisioning.

    • Thin Provisioning. Ukuran virtual harddisk kita tetapkan, menjadi kapasitas maksimum. Tapi, ukuran file virtual harddisk akan menyesuaikan ukuran penggunaannya, hingga kapasitas maksimumnya (kapasitas maksimum virtual harddisk, bukan kapasitas maksimum storage pool).
      thinprovisioning1
    • Fixed Provisioning. Ukuran virtual harddisk kita tetapkan, menjadi kapasitas maksimumnya. Ukuran file virtual harddisk sesuai dengan yang kita tetapkan.
      fixedprovisioning
  4. Setelah membuat virtual harddisk, kita buat volume. Volume inilah yang nanti akan tampak di Windows Explorer sebagai ‘partisi’ D, E, F, dan seterusnya. Data disimpan secara logical di volume-volume ini.

Membuat Storage Pool di Windows Server 2012

  1. Pastikan ada 1 atau lebih physical harddrive tambahan yang sudah terpasang pada host, atau terattach ke VM.
  2. Buka Server Manager, navigasikan ke File and Storage Services -> Disks. Akan muncul harddrive yang sudah terpasang pada host atau terattach ke VM. Seperti di screenshot di bawah ini, saya punya 1 harddrive untuk OS, dan 3 yang baru terpasang. Yang baru terpasang akan berstatus offline.
    disks
  3. Lanjut navigasikan ke Storage Pools. Kita akan menemukan Primordial storage pool yang berisikan semua physical harddrive yang belum teralokasikan.
  4. Klik kanan di primordial, atau klik TASKS -> New Storage Pool…
  5. Beri nama storage pool yang kita buat, pilih physical harddrive mana saja yang akan kita gunakan untuk storage pool kita, lalu klik Create.
  6. Setelah proses dan storage pool telah selesai dibuat, terlihat kapasitas storage pool 1.73TB dari harddrive 250GB + 500GB + 1TB. Juga terlihat di pojok kanan bawah physical disk apa saja yang menyusun storage pool tersebut.
    storagepools1
  7. Setelah storage pool selesai dibuat, saatnya membuat virtual harddisk. Klik kanan pada storage pool, atau klik TASKS -> New Virtual Disk…
  8. Pilih dari storage pool mana kita akan membuat virtual disk, beri nama, pilih storage layout (ingat bahasan storage layout di atas), pilih tipe provisioning, dan tentukan ukuran maksimum virtual disk.
  9. Setelah membuat virtual disk, kita lanjutkan dengan membuat volume. Tentukan ukuran volumenya, assign drive letter atau folder, tentukan file systemnya (NTFS atau ReFS).
  10. Setelah selesai, akan muncul volume baru di Windows Explorer, volume yang dibentuk di dalam virtual disk yang berjalan di atas storage pool. Kita bisa gunakan volume tersebut untuk menyimpan data, dan memanfaatkan kelebihan-kelebihan dari fitur storage pool.
    newvolume

Menambah Physical Harddrive ke dalam Storage Pool

Salah satu manfaat menggunakan storage pool adalah kapasitas penyimpanan yang bisa ditambah tanpa harus mengalami downtime. Tentunya ini akan sangat bermanfaat bagi server yang tidak boleh downtime sama sekali.

Selain ukuran volume & virtual disk yang bisa diextend, kapasitas storage pool juga bisa ditambah dengan menambahkan physical harddrive. Caranya mudah:

  1. Pasang physical harddrive ke host (atau virtual harddisk ke VM)
  2. Buka Server Manager -> File & Storage Services -> Volumes -> Disks, dan pastikan ada 1 harddrive baru muncul disitu.
  3. Navigasikan ke Server Manager -> File & Storage Services -> Volumes -> Storage Pools.
  4. Pada bagian Physical Disks, klik TASKS -> Add Physical Disk… -> pilih harddrive yang ingin ditambahkan ke storage pool, lalu klik OK.
  5. Setelah selesai ditambahkan, maka kapasitas storage pool akan bertambah.

Membuat Storage Pool di Windows 8.1

Windows 8.1 datang dengan segudang fitur baru yang belum ada di versi Windows sebelumnya. Satu diantaranya adalah pembuatan & pengelolaan Storage Pool.

Untuk membuat storage pool di Windows 8.1 dapat dilakukan di Control Panel -> All Control Panel Items -> Storage Spaces.

Pembuatan storage pool di Windows 8.1 lebih masuk akal dilakukan untuk Windows 8.1 yang terinstall di PC. Karena menambahkan physical harddrive hampir tidak memungkinkan untuk kebanyakan laptop. Tetapi untuk belajar, kita bisa create & attach VHD di Administrative Tools -> Computer Management -> Disk Management, dan memfungsikannya seolah seperti physical harddrive.

createvhd

Secara umum langkah-langkahnya mirip dengan pembuatan storage pool di Windows Server 2012:

  1. Pastikan ada 1 atau lebih physical harddrive tambahan yang sudah terpasang pada komputer.
  2. Buka Control Panel -> All Control Panel Items -> Storage Spaces dan klik Create a new pool and storage space. Klik Yes saat window UAC muncul.
  3. Pilih physical harddrive yang akan dijadikan storage pool lalu klik Create pool. Tunggu prosesnya.
    storagepoolw8-1
  4. Setelah prosesnya selesai, kita bisa membuat storage space. Beri Nama, Drive Letter, File System, Resiliency Type (sama seperti layout, hanya saja di sini ada two-way & three-way mirror), dan ukuran. Lalu klik Create storage space. Tunggu prosesnya.

Begini penampakannya setelah selesai:

storagepoolw8-1-2

winexplorer

Menambahkan Physical Harddrive ke dalam Storage Pool

  1. Buka Control Panel -> All Control Panel Items -> Storage Spaces
  2. Klik Change settings. Klik Yes jika window UAC muncul.
  3. Klik Add drives.
  4. Pilih harddrive yang ingin ditambahkan ke storage pool. Klik Add drives.

Setelah mengklik Change settings, selain kita bisa menambahkan harddrive baru ke dalam storage pool, kita juga bisa membuat storage spaces baru lagi dan mengubah nama storage pool.

Sekian, semoga bermanfaat. 🙂

Windows Server 2012 Password Policy

Mengatur Password Policy pada Windows Server 2012 yang Standalone

  1. Buka Local Security Policy.
    Start ⇒ Ketik “Local Security Policy” ⇒ Tekan [Enter].
  2. Expand tree Security Settings ⇒ Account Policies ⇒ Password Policy.
  3. Atur sesuai dengan kebutuhan atau kebijakan.

Mengatur Password Policy pada Active Directory Windows Server 2012

  1. Buka Group Policy Management.
    Server Manager ⇒ Tools ⇒ Group Policy Management.
  2. Buat Group Policy Object untuk domain atau objek tertentu.
    Klik kanan pada nama domain atau objek tertentu ⇒ Create a GPO in this domain and Link it here… ⇒ beri nama “Password Policy” atau apapun sesuai selera ⇒ klik [OK].
  3. Klik kanan pada GPO yang baru kita buat ⇒ [Edit].
  4. Pada window Group Policy Management Editor, buka tree Password Policy [nama_komputer] Policy ⇒ Computer Configuration ⇒ Policies ⇒ Windows Settings ⇒ Security Settings ⇒ Password Policy.
    gpo_passwdpolicy_edit
  5. Atur sesuai dengan kebutuhan atau kebijakan perusahaan.

Item Kebijakan dalam Mengelola Password Policy

Item Kebijakan Keterangan Default
Enforce password history Mendefinisikan jumlah password unik untuk sebuah akun sebelum password lama dapat digunakan kembali.

Jika didefinisikan, administrator harus menetapkan jumlah password unik antara 0 – 24 password.

Jika tidak didefinisikan, atau diisi 0, user dapat menggunakan password sebelumnya ketika diminta untuk mengubah password.

Not defined.
Maximum password age Mendefinisikan berapa lama (dalam hari) sebuah password dapat digunakan sebelum sistem meminta user untuk mengubah passwordnya.

Jika didefinisikan, administrator harus menentukan berapa lama (antara 1-999 hari) usia sebuah password hingga sistem meminta user untuk mengubah passwordnya.

Jika tidak didefinisikan, atau diisi 0, sistem tidak akan meminta user untuk mengubah passwordnya secara periodik.

Not defined.
Minimum password age Mendefinisikan berapa lama (dalam hari) sebuah password harus digunakan sebelum user dapat mengubah passwordnya.

Jika didefinisikan, administrator harus menentukan berapa lama (antara 1-999 hari) sebuah password harus digunakan sebelum user bisa mengubah passwordnya.

Jika tidak didefinisikan, atau diisi 0, user dapat mengubah lagi passwordnya seketika setelah diubah..

Not defined.
Minimum password length Mendefinisikan panjang password minimum.

Jika didefinisikan, administrator harus menentukan panjang password minimum yang harus dipatuhi oleh user (antara 1 – 14 karakter).

Jika tidak didefinisikan, atau diisi 0, berarti user tidak wajib mengisi password.

Not defined.
Password must meet complexity requirements Mendefinisikan kompleksitas pola susunan password.

Jika didefinisikan, administrator harus memilih mengaktifkan atau menonaktifkan policy ini. Jika aktif, maka kompleksitas password harus:

  • Tidak berisi username atau bagian dari nama lengkap user melebihi 2 karakter berturut-turut.
  • Minimal berisi 6 karakter.
  • Berisi setidaknya 3 dari 4 jenis karakter berikut ini:
    • Uppercase (A – Z)
    • Lowercase (a – z)
    • Numerik dasar (0 – 9)
    • Non-alfabet (!@#$%^&*())

Jika tidak didefinisikan, atau di-disable, maka user boleh menggunakan password dengan pola yang sederhana.

Not defined.
Store password using reversible encryption Mendefinisikan penyimpanan password dengan enkripsi yang dapat dibalik.

Jika didefinisikan dan diaktifkan, password akan disimpan dengan enkripsi yang dapat dibalik. Ini berguna untuk otentikasi user menggunakan CHAP lewat remote access atau menggunakan IAS. Setting ini juga diperlukan jika Anda menggunakan Digest Auth di IIS.

Jika tidak didefinisikan atau di-disable, password akan disimpan dengan menggunakan enkripsi yang tidak bisa dibalik.

Not defined.

Sekian. Semoga bermanfaat. 🙂

Running PHP-MySQL Application on IIS

Tidak seperti XAMPP/LAMP yang sudah sepaket berisi Apache web server & MySQL database, menggunakan web server yang tidak dikemas dalam sebuah paket seperti IIS, Apache (standalone), Nginx, Lighttpd, membuat kita perlu menginstall komponennya sendiri-sendiri.

Jika kita ingin menjalankan aplikasi PHP-MySQL di IIS, maka langkah-langkahnya secara umum akan seperti berikut: Lanjut membaca

Cara Mudah Tes Bandwidth Antara Dua Komputer Windows

Kali ini saya akan posting tentang satu tool kecil untuk tes bandwidth di antara dua komputer Windows. Tool ini bisa didownload di:

https://publishing.ucf.edu/sites/itr/cst/Pages/iperf.aspx

Cara menggunakannya mudah, tanpa perlu install:

  1. Copykan tool ini di kedua komputer.
  2. Di satu komputer yang berlaku sebagai server, ketik iperf -s

    iperf-s

  3. Di komputer lain yang berlaku sebagai client, ketik iperf -c [IP_server]
  4. Hasilnya akan terlihat:

    iperf-c

Tool ini juga bisa digunakan untuk testing bandwidth network secara full-duplex. Tinggal menambahkan -d di belakang IP server:

iperf -c [IP_server] -d

iperf-c-d

Tes ini saya lakukan di Windows Server 2012 & Windows 8.1.

Windows Azure VM: “The operation cannot be performed because the virtual machine is faulted.”

Sempat kaget waktu saya lihat alert di hape yang menyatakan bahwa server Juwall.com & elhashif.net down. Seketika langsung saya buka management portal-nya Windows Azure dan mendapati ketiga VM saya berstatus STOPPED.

“Lho, kok tiba-tiba stopped?”

Ketika saya coba starting VM, ada error:

The operation cannot be performed because the virtual machine is faulted. The long running operation tracking ID was: 06b0c380ff9148bc94d49c26994cc30b

vm-azure-faulted

Setelah searching kesana-kemari, akhirnya saya menemukan tulisan di blog MSDN:

We have one known issue that may cause this behavior and our internal teams are working very hard to get to the fix deployed to resolve the issue. Until then, you may resize the virtual machine to workaround the issue quickly. If the issue persists after resizing, you may open a new forum thread using the forum link(s) provided under “Production workloads and support during Windows Azure Virtual Machines “Preview”” section.

Aku coba resize. Dan benar, VMnya bisa nyala lagi. Saya kembalikan ke size semula juga masih jalan.

Masih bertanya-tanya, tapi masih malas menghubungi supportnya.

Sekian aja, semoga bermanfaat 🙂