Arsip Kategori: Infrastructure

OpenLiteSpeed Web Server – PHP Error Setelah Upgrade

Baru saja melakukan apt-get update && apt-get upgrade && apt-get dist-upgrade, muncul error saat akses ke website. Tidak begitu memperhatikan errornya, yang jelas errornya tentang missing module.

Setelah menelusuri, ternyata setelah upgrade, web server OpenLiteSpeed memanggil PHP processor bawaan. Sedangkan saya menggunakan LSPHP versi 5.6.

Solusinya, buatkan link ke direktori LSPHP 5.6 agar OpenLiteSpeed memanggil PHP processor yang benar saat mengeksekusi script PHP:

sudo ln -sf /usr/local/lsws/lsphp56/bin/lsphp /usr/local/lsws/fcgi-bin/lsphp5

Sekian.

Kyocera ECOSYS M2535dn – Scan to Shared Folder / SMB

Tulisan ini adalah catatan panduan setting untuk fungsi scan to SMB di Kyocera ECOSYS M2535dn. Karena bagi saya yang baru pertama kali berhadapan dengan Kyocera, setting scan to SMB di Kyocera ini relatif lebih ribet daripada merek kompetitornya, hehe..

Di catatan kali ini, kita akan mengatur agar M2535dn dapat melakukan scan dokumen dan menyimpan file hasil scan langsung ke shared folder di Windows. Untuk shared directory di NAS, kurang lebih sama. Tinggal menyesuaikan saja.

Sebelum memulai, ada prasyarat yang harus dipenuhi:

  1. Unit M2353dn sudah terhubung ke network dengan pengaturan IP yang benar.
  2. PC juga sudah terhubung ke network dan dapat berkomunikasi dengan unit M2535dn (verifikasikan dengan ping).

Kita mulai. Langkahnya secara umum seperti berikut:

  1. Membuat user
  2. Membuat shared folder
  3. Setting di mesin M2535dn

Membuat User

Kenapa harus membuat user?
Bagi saya sih untuk mempermudah manajemen aja. Karena Kyocera mensyaratkan kolom username & password di SMB setting tidak boleh kosong. Padahal, tidak semua PC memiliki user yang terpassword. So, kita buat user baru saja, sebuah user dengan username “scan” dan password “scan”.

  1. Buka User Manager (Run ⇒ lusrmgr.msc).
  2. Klik kanan di folder User ⇒ New User.
  3. Isi username, password, dan confirm password.
  4. Uncheck “User must change password at next logon”, dan check “User cannot change password” dan “Password never expires”.
  5. Klik [Create] kemudian [Close].

Membuat Shared Folder

Setelah membuat user, kita lanjutkan dengan membuat shared folder untuk menampung file-file hasil scan.

  1. Buat folder dimana saja Anda kehendaki.
  2. Klik kanan pada folder baru tersebut ⇒ Properties. Klik tab Sharing.
  3. Klik [Advanced Sharing].
  4. Check “Share this folder“. Klik [Permissions].
  5. Klik [Add]. Ketikkan “scan”, tekan [Enter↵].
  6. Pada “Permissions for scan”, check Change.
  7. Klik [OK].

Setting di mesin M2535dn

Untuk mengisikan informasi SMB di mesin M2535dn agak berbeda dengan beberapa merek lain. Di mesin ini, informasi SMB disimpan dalam sebuah address book. Sehingga memungkinkan beberapa target SMB dalam satu mesin. Disini saya merasa bingung pada awalnya. Karena pengalaman saya dengan beberapa merek lain, setting SMB dilakukan di general setting, sehingga hanya dapat memiliki satu target SMB.

Setting mesin M2535dn lebih mudah dilakukan via web interface-nya.

  1. Akses alamat IP mesin M2535dn dan login ke Kyocera Command Center RX dengan username dan password default Admin (case sensitive).
  2. Cek Function Setting ⇒ Scan to Folder. Pastikan status SMB dalam keadaan “On“.
  3. Buka Address Book ⇒ Machine Address Book. Klik [Add].
  4. Beri nama, dan isikan informasi SMB:
    • Alamat IP.
    • Port biarkan default.
    • Path (nama shared folder yang telah kita buat pada langkah kedua).
    • Username dan password yang telah kita buat pada langkah pertama.
  5. Setelah mengisi informasi SMB, klik [Test] untuk menguji apakah pengaturan yang kita buat sudah benar atau belum. Jika tidak ada masalah, maka akan muncul status Connection OK.

Scan to SMB in Action

Kalau urusan dengan shared folder dan setting di mesin M2535dn sudah selesai, sekarang saatnya action.

  1. Pada Operation Panel di mesin M2535dn, tekan [Send].
  2. Lalu tekan [Address Book]. Pilih nama address book yang telah kita buat di atas. Tekan [OK].
  3. Pilih SMB/IP address, lalu tekan [OK].
  4. Lalu tekan [Start] untuk memulai proses scanning.
  5. Setelah selesai, akan ada file baru di shared folder kita.

Sekian. Semoga bermanfaat. 🙂

LDR dengan Ubiquiti PowerBeam PBE-M5-400

Ini semua bermula dari tidak adanya koneksi internet di daerah sekitar toko keluarga. Sedangkan koneksi internet sangat dibutuhkan di toko. Padahal daerahnya juga gak ndeso banget. Ada sih, cuma via seluler. Satupun ISP belum ada yang instalasi kabel FO ke daerah situ.

Jadi ada dua alternatif solusi yang saya ajukan ke ayah saya:

  • Pakai modem seluler, atau
  • Bikin koneksi wireless dari rumah ke toko.

Lalu seketika ayah putuskan: “Kita bangun wireless saja. Sekalian kita buat wi-fi untuk akses internet di daerah situ.”


Mulailah saya browsing-browsing untuk mencari radio dan antena apa yang cocok untuk saya gunakan. Akhirnya, keputusan saya jatuh pada produk Ubiquiti PowerBeam PBE-M5-400 yang memiliki spesifikasi:

  • Operating Frequency: 5170-5875 Mhz
  • Antenna Gain: 25 dBi
  • Throughput: 150+ Mbps
  • Range: 25+ Km
  • PoE

Alasan saya memilih frekuensi 5 Ghz adalah, pertama karena frekuensi ini bersifat free to use tanpa harus melakukan pendaftaran ke regulator (DEPKOMINFO). Kedua, karena pengguna 5 Ghz masih sedikit. Perangkat client (smartphone, notebook, smart TV, dll) pun masih sangat jarang yang menggunakan frekuensi 5 Ghz. Jadi minim interferensi karena tidak terlalu crowded.

Dengan jarak rumah-toko yang hanya 2,38 km line-of-sight, mungkin penggunaan produk ini terkesan ‘berlebihan’. Secara fungsional, memang tidak ekonomis. Tapi secara pribadi saya menyukai produk ini karena transmitternya sudah dual-polarity (vertikal-horisontal).

Survey

Saya melakukan survey sederhana dengan bantuan Google Earth untuk menarik garis lurus antara rumah dan toko, sehingga bisa diperkirakan arah hadapnya antena. Dengan Google Earth juga saya dapat memperkirakan profil ketinggian tanah.

Konfigurasi

Konfigurasi saya lakukan sebelum radio dan antena dipasang. Ringkasan konfigurasinya seperti ini:

  • Point1 (rumah): Bridge-AP Mode
  • Point2 (toko): Bridge-Station Mode

Panduan konfigurasi lengkapnya bisa dilihat di https://help.ubnt.com/hc/en-us/articles/205142890-airMAX-Configure-a-Point-to-Point-Link-Layer-2-Transparent-Bridge-

Kamar pecah.

A post shared by M. Afiful Hashif (@elhashif) on

Instalasi

Secara teknis, instalasi PowerBeam sangat mudah. Cukup pasang mounting ke tiang, colok kabel UTP, selesai.

Berikut ini video unboxing PowerBeam dari Intellibeam:

Instalasi pertama (AP) saya lakukan di rumah. Kebetulan langit agak mendung, jadi langsung saja saya hadapkan ke arah yang sesuai dengan garis lurus yang saya dapatkan dari pengukuran di Google Earth.

🎵 Aku di sini dan kau di sana.. 🎶

A post shared by M. Afiful Hashif (@elhashif) on

Instalasi kedua (station) saya lakukan di toko. Dengan posisi AP dan station menyala, saya dapat mengarahkan antena station ke AP dengan lebih mudah. Karena Ubiquiti memiliki antenna alignment tool.

Dengan tool sederhana ini, kita dapat melihat level kekuatan sinyal sambil mengarahkannya. Kita juga dapat menghidupkan bunyi beep untuk memudahkan kita mengarahkan antena.

Done. LDR without worry.. 😁

A post shared by M. Afiful Hashif (@elhashif) on

Setelah pemasangan selesai ini yang saya dapatkan:

Dengan kemampuan antena yang sampai 25+ km, sementara instalasi saya yang hanya 3 km tapi kekuatan sinyal tidak sampai 100%, saya pikir memang perlu adanya optimasi lagi di arah dan ketinggian antena. Tapi meski sinyalnya tidak sampai 100%, saya sudah bisa dapat bandwidth antar site rata-rata diatas 100 Mbps. 🙂

Install Glances Monitoring Tool di Ubuntu

Glances?

Glances adalah salah satu monitoring tool yang ditulis dengan bahasa Python. Glances memanfaatkan librari psutil untuk mendapatkan informasi dari sistem.

Yang dapat kita pantau dengan Glances antara lain:

  • CPU
  • RAM
  • SWAP
  • Rata-rata CPU load dalam 1, 5, dan 15 menit terakhir
  • Network
  • Processes
  • Disk I/O
  • dll

Menariknya, Glances juga menampilkan informasi warna:

  • Hijau ⇒ OK
  • Biru ⇒ Waspada
  • Ungu ⇒ Peringatan
  • Merah ⇒ Kritis

Instalasi

  1. sudo apt-get update
  2. sudo apt-get install python-pip build-essential python-dev
  3. sudo pip install Glances
  4. sudo pip install PySensors

Jika sudah selesai, jalankan dengan perintah glances.

Sekian, semoga bermanfaat.

Menghitung Hari – Windows Server 2003/R2 End of Support

Sudah lebih dari setahun lalu Microsoft mengumumkan akan berakhirnya Windows Server 2003. Kini, tinggal menghitung hari saja hingga Microsoft benar-benar akan menghentikan dukungannya terhadap Windows Server 2003 pada 14 Juli 2015.

Apa artinya jika dukungan terhadap Windows Server 2003 berakhir?

No Updates

Di tahun 2013 Microsoft merilis HANYA 37 critical updates untuk Windows Server 2003/R2. Setelah 14 Juli 2015, tidak akan ada lagi update fitur maupun patch keamanan untuk Windows Server 2003/R2. Artinya, perusahaan yang masih menggunakan Windows Server 2003/R2 berpotensi menjadi sasaran empuk para pencari celah keamanan.

No Compliance

Sumber daya TI pada sebuah perusahaan secara rutin diaudit agar dapat selalu mendukung aktivitas bisnis. Salah satu subjek audit yang vital adalah tentang IT/IS Security.

Nah, perusahaan yang masih menggunakan Windows Server 2003/R2 setelah tanggal 14 Juli 2015 tidak akan lolos audit. Perusahaan seperti Visa atau MasterCard tidak akan bersedia bekerjasama dengan perusahaan yang masih menggunakan Windows Server 2003/R2 karena tidak compliance terhadap standar PCI.

No Safe Haven

Baik server virtual maupun fisik yang masih menggunakan Windows Server 2003/R2 dan Windows Small Business Server (SBS) 2003 setelah tanggal 14 Juli 2015 akan rentan dari sisi keamanan dan tidak akan lolos audit keamanan TI/SI.

Biaya operasional akan lebih tinggi untuk merawat hardware yang beranjak tua dan membeli perangkat-perangkat keamanan untuk melindungi server yang masih menggunakan Windows Server 2003/R2.

Migrasi Yuk!

Tidak ada alasan untuk menunda proses migrasi. Secara umum, proses migrasi pada perusahaan berskala SMB dapat berlangsung selama 30-60 hari untuk sistem operasi, dan sekitar 90 hari untuk keseluruhan aplikasi hingga semuanya berjalan normal.

Ada 4 langkah kunci untuk migrasi dari Windows Server 2003/R2. Proses dan langkah-langkah migrasi secara umum akan saya paparkan di halaman berikutnya.

Halaman: 1 | 2

Menggunakan SPF dan DKIM Untuk Menghindari Masuknya Email ke Folder SPAM

Punya email dengan domain sendiri atau domain perusahaan?
Sebel karena email yang Anda kirim sering nyemplung ke folder spam tujuan?

Kalau iya, mungkin Anda lupa melakukan setting DKIM, atau minimal SPF pada domain Anda.

Meski Anda pengguna Office 365, Google Apps, Live Custom Domain, atau Zoho Mail yang berkirim email dari server mereka yang notabene sudah punya reputasi bagus, belum tentu email yang Anda kirim akan selamat sampai di inbox tujuan. Adakalanya akan nyemplung dulu ke folder spam.

Sender Policy Framework (SPF)

SPF adalah sebuah mekanisme validasi email sederhana yang memungkinkan mail server penerima mengecek apakah email yang diterima dari sebuah domain itu dikirim dari server yang diotorisasi oleh pemilik domain tersebut.

Mail server yang diotorisasi oleh sebuah domain didaftarkan pada sebuah domain dalam bentuk TXT record.

Email spam dan phising seringkali menggunakan akun email palsu. Jadi, pengecekan dengan SPF record dapat difungsikan sebagai salah satu mekanisme untuk menghindari spam.

DomainKeys Identified Mail (DKIM)

DKIM mirip seperti SPF, plus memvalidasi bahwa email (termasuk lampirannya) tidak dimodifikasi di tengah jalan. Mekanisme DKIM melampirkan digital signature pada email yang dikirim agar dapat divalidasi oleh mail server penerima dengan public key milik mail server pengirim yang terpublikasi di DNS.

Perbedaan SPF dan DKIM

Mudahnya, SPF memvalidasi hanya ‘amplopn’ya saja (alamat pengirim dan server yang digunakan untuk mengirim), tanpa memvalidasi header dan kontennya.

Sedangkan DKIM, selain memvalidasi ‘amplop’nya, dia juga memvalidasi signature yang terdapat pada header dan konten email.

Berikut ini screenshot Gmail saya yang menerima email dari blog ini melalui Mandrill.

Penjelasan lebih rinci dan bagaimana cara validasi menggunakan SPF dan DKIM akan saya jelaskan di halaman berikutnya.

Halaman: 1 | 2 | 3

Microsoft Azure Storage for WordPress

Ketika website kita yang berbasis WordPress mulai berkembang, atau ketika kapasitas hosting kita terbatas, kita dapat memanfaatkan Microsoft Azure Storage Service untuk menyimpan file-file media untuk website kita.

Kelebihan yang kita dapatkan ketika menggunakan Microsoft Azure Storage Service diantaranya:

  • Scale sampai dengan 500TB per storage account
  • High availability
  • Local/Geo redundant

Prasyarat

  • Microsoft Azure subscription
  • Self-hosted WordPress

Let’s Start!

Membuat Storage Account di Microsoft Azure

Jika Anda telah memiliki Storage Account dan tidak ingin membuat Storage Account yang baru, Anda bisa skip ke langkah Membuat Container.

  1. Login ke Microsoft Azure Management Portal.
  2. Buat Storage Account baru.
    NewData + StorageStorage. Beri nama dan lakukan beberapa penyesuaian, lalu klik [Create].
  3. Klik Settings ⇒ Keys. Catat Storage Account Name dan Primary Access Key-nya.

Membuat Container

Membuat Container dapat dilakukan dari Azure Management Portal, atau dari WordPress.

Jika Anda memilih untuk membuat Container dari WordPress, Anda bisa skip langkah ini dan lanjutkan ke instalasi dan konfigurasi plugin.

Jika Anda ingin membuat Container di Azure Management Portal, berikut langkahnya:

  1. Klik Containers ⇒ Add.
  2. Beri nama, pilih Access Type Blob atau Container, lalu klik OK.

 

Jika Anda bingung tentang hirarki konsep storage di Azure, Anda dapat memperhatikan gambar ini:

Install Plugin

  1. Login ke WordPress Anda ⇒ Plugin ⇒ Tambah Baru.
  2. Ketik “Azure” di pencarian, lalu install dan aktifkan Windows Azure Storage for WordPress.

Konfigurasi Plugin

  1. Buka Pengaturan ⇒ Windows Azure.
  2. Isikan Store Account Name dan Primary Access Key yang telah kita catat tadi, lalu klik Simpan Perubahan.
  3. Pilih Default Storage Container dengan container yang telah Anda buat sebelumnya. Atau Anda dapat membuat storage container baru. Lalu klik Simpan Perubahan.
  4. Anda dapat mencentang opsi “Use Windows Azure Storage for default upload” jika Anda ingin menggunakan Azure Storage sebagai penyimpanan default untuk file-file media WordPress Anda.

Penggunaan

Ketika Anda membuat posting baru, Anda akan melihat tombol baru berlogo Windows Azure di samping tombol Tambahkan Media.


Opsional

CNAME

Anda dapat mengonfigurasikan CNAME domain Anda untuk menyamarkan penggunaan Azure Storage.

  1. Masuk ke domain control panel Anda dan tambahkan CNAME record sesuka Anda ke <account_name>.blob.core.windows.net.
  2. Di Azure Management Portal, buka Settings ⇒ Custom Domain Go.
  3. Klik Manage Domain lalu isikan domain/subdomain Anda, lalu klik Register dan tanda centang di kanan bawah.
  4. Setelah selesai, maka URL file yang tadinya https://afif.blob.core.windows.net/wordpress/elhashif.jpg bisa menjadi http://files.elhashif.net/wordpress/elhashif.jpg.

File Explorer

Untuk memudahkan manajemen file, Anda dapat menggunakan cloud storage explorer seperti CloudBerry Explorer atau Azure Storage Explorer.

Selain versi desktop, ada juga yang web-based seperti Azure Web Storage Explorer.

Sekian, semoga bermanfaat. 🙂