Arsip Bulanan: Februari 2016

Setup Awal Raspberry Pi 2 Model B

Beberapa hari yang lalu, Raspberry Pi 2 model B pesanan saya telah tiba di rumah. Berikut ini catatan saya tentang setup awal Raspberry Pi 2 model B.

Sistem Operasi

Ada beberapa sistem operasi yang dapat diinstall pada Raspberry Pi:

  • Raspbian (berbasis Debian)
  • Arch Linux ARM
  • OpenELEC
  • Pidora (berbasis Fedora)
  • Raspbmc (media center, berbasis XBMC)
  • Minepeon
  • Kali Linux
  • OpenWrt for Raspberry Pi
  • Raspberry Digital Signage
  • RISC OS Pi
  • Dll.

Saya sendiri menggunakan Raspbian.

Berikut langkah instalasinya:

  1. Siapkan micro SD card dengan minimum class 6 dan kapasitas 2GB, hubungkan ke PC/laptop.
  2. Download Raspbian di https://www.raspberrypi.org/downloads/raspbian, ekstrak,
  3. Download Win32DiskImager di http://sourceforge.net/projects/win32diskimager, jalankan.
  4. Browse file image Raspbian.
  5. Pilih drive letter micro SD card.
  6. Klik [Write]

Setelah selesai, pasang micro SD card pada unit Raspberry Pi 2 Model B. Pasang monitor & keyboard, power adaptor, lalu hidupkan. Biarkan dia booting sampai selesai.

Konfigurasi Awal

  1. Login dengan user pi dan password raspberry.
  2. Gunakan sudo raspi-config untuk konfigurasi awal. Silahkan lakukan konfigurasi sesuai keinginan. Anda dapat melakukan konfigurasi untuk:
    • Expand filesystem agar seluruh space micro SD card dapat digunakan oleh OS.
    • Mengubah password.
    • Boot ke console atau ke GUI.
    • Pilihan internasionalisasi (bahasa, lokasi, keyboard layout)
    • Penggunaan Pi Camera.
    • Overclock.
    • Mengubah hostname.
    • Memory split (system/GPU).
    • Menghidupkan SSH server.
    • dll.
    • <Finish> jika sudah selesai mengonfigurasi.
  3. Mengubah username:
    1. Beri password untuk user root:
      sudo passwd root
    2. Logout, dan login kembali sebagai root.
    3. Ubah username pi:
      usermod -l usernamebaru pi
    4. Buat home directory usernamebaru:
      usermod -m -d /home/usernamebaru usernamebaru
    5. Logout, login kembali sebagai usernamebaru.
    6. Pastikan bahwa usernamebaru dapat melakukan sudo.
    7. Jika usernamebaru telah dapat melakukan sudo, kita dapat menonaktifkan root demi keamanan:
      sudo passwd -l root
  4. Jika sudah selesai semua, reboot.

Sekian. Kalau ada yang ingin didiskusikan, silahkan tinggalkan komentar.. 🙂

Semoga bermanfaat.. 🙂

LDR dengan Ubiquiti PowerBeam PBE-M5-400

Ini semua bermula dari tidak adanya koneksi internet di daerah sekitar toko keluarga. Sedangkan koneksi internet sangat dibutuhkan di toko. Padahal daerahnya juga gak ndeso banget. Ada sih, cuma via seluler. Satupun ISP belum ada yang instalasi kabel FO ke daerah situ.

Jadi ada dua alternatif solusi yang saya ajukan ke ayah saya:

  • Pakai modem seluler, atau
  • Bikin koneksi wireless dari rumah ke toko.

Lalu seketika ayah putuskan: “Kita bangun wireless saja. Sekalian kita buat wi-fi untuk akses internet di daerah situ.”


Mulailah saya browsing-browsing untuk mencari radio dan antena apa yang cocok untuk saya gunakan. Akhirnya, keputusan saya jatuh pada produk Ubiquiti PowerBeam PBE-M5-400 yang memiliki spesifikasi:

  • Operating Frequency: 5170-5875 Mhz
  • Antenna Gain: 25 dBi
  • Throughput: 150+ Mbps
  • Range: 25+ Km
  • PoE

Alasan saya memilih frekuensi 5 Ghz adalah, pertama karena frekuensi ini bersifat free to use tanpa harus melakukan pendaftaran ke regulator (DEPKOMINFO). Kedua, karena pengguna 5 Ghz masih sedikit. Perangkat client (smartphone, notebook, smart TV, dll) pun masih sangat jarang yang menggunakan frekuensi 5 Ghz. Jadi minim interferensi karena tidak terlalu crowded.

Dengan jarak rumah-toko yang hanya 2,38 km line-of-sight, mungkin penggunaan produk ini terkesan ‘berlebihan’. Secara fungsional, memang tidak ekonomis. Tapi secara pribadi saya menyukai produk ini karena transmitternya sudah dual-polarity (vertikal-horisontal).

Survey

Saya melakukan survey sederhana dengan bantuan Google Earth untuk menarik garis lurus antara rumah dan toko, sehingga bisa diperkirakan arah hadapnya antena. Dengan Google Earth juga saya dapat memperkirakan profil ketinggian tanah.

Konfigurasi

Konfigurasi saya lakukan sebelum radio dan antena dipasang. Ringkasan konfigurasinya seperti ini:

  • Point1 (rumah): Bridge-AP Mode
  • Point2 (toko): Bridge-Station Mode

Panduan konfigurasi lengkapnya bisa dilihat di https://help.ubnt.com/hc/en-us/articles/205142890-airMAX-Configure-a-Point-to-Point-Link-Layer-2-Transparent-Bridge-

Kamar pecah.

A post shared by M. Afiful Hashif (@elhashif) on

Instalasi

Secara teknis, instalasi PowerBeam sangat mudah. Cukup pasang mounting ke tiang, colok kabel UTP, selesai.

Berikut ini video unboxing PowerBeam dari Intellibeam:

Instalasi pertama (AP) saya lakukan di rumah. Kebetulan langit agak mendung, jadi langsung saja saya hadapkan ke arah yang sesuai dengan garis lurus yang saya dapatkan dari pengukuran di Google Earth.

🎵 Aku di sini dan kau di sana.. 🎶

A post shared by M. Afiful Hashif (@elhashif) on

Instalasi kedua (station) saya lakukan di toko. Dengan posisi AP dan station menyala, saya dapat mengarahkan antena station ke AP dengan lebih mudah. Karena Ubiquiti memiliki antenna alignment tool.

Dengan tool sederhana ini, kita dapat melihat level kekuatan sinyal sambil mengarahkannya. Kita juga dapat menghidupkan bunyi beep untuk memudahkan kita mengarahkan antena.

Done. LDR without worry.. 😁

A post shared by M. Afiful Hashif (@elhashif) on

Setelah pemasangan selesai ini yang saya dapatkan:

Dengan kemampuan antena yang sampai 25+ km, sementara instalasi saya yang hanya 3 km tapi kekuatan sinyal tidak sampai 100%, saya pikir memang perlu adanya optimasi lagi di arah dan ketinggian antena. Tapi meski sinyalnya tidak sampai 100%, saya sudah bisa dapat bandwidth antar site rata-rata diatas 100 Mbps. 🙂