“Yang Penting Hatinya”

Pagi ini saya update status:

Mengetahui kekuatan umat Islam itu mudah: Lihat saja jumlah jamaah sholat shubuhnya.

Dan mengetahui persatuan umat Islam juga mudah: Lihat saja bagaimana kerapatan shaf sholatnya.

Lalu sore ini ada komentar:

Belum tentu. Yg smpyn lihat hanya ibadah dzahir alias kulit, qalbunya belum.

Saya cukup menyayangkan komentar ini. Karena komentar ini ditulis oleh seseorang yang berkecimpung di dunia pendidikan, yang berkutat dengan ilmu, yang seharusnya tidak melontarkan komentar yang undervalued seperti ini.

Membaca komentar beliau, saya menyimpulkan bahwa menurut beliau jumlah jamaah sholat shubuh BELUM TENTU bisa jadi parameter kekuatan ummat Islam. Yang penting hatinya. Jika banyak muslim yang berpikiran seperti ini, maka tak heran apabila umat Islam gembos dalam menghadapi musuh-musuh Islam.

Sudah banyak cerita bahwa salah satu ketakutan tentara Yahudi adalah apabila jumlah jamaah shubuh sebanyak jumlah jamaah sholat jumat.

Oke, mungkin Anda menganggap cerita itu hoax belaka. Namun pernahkah Anda mendengar kisah Rasulullah yang mengancam akan membakar rumah lelaki muslim yang tidak berjamaah di masjid?

Kesimpulan berikutnya dari komentar beliau adalah, bahwa shaf sholat BELUM TENTU berpengaruh pada persatuan ummat. Yang penting hatinya. Padahal Rasulullah pernah bersabda, “Benar-benarlah kalian dalam meluruskan shaf, atau (jika tidak) niscaya Allah akan membuat perselisihan di antara wajah-wajah kalian.” (HR. Muslim No. 436).

Komentar itu senada pernyataan-pernyataan yang sering kita dengar soal hijab: “Mau berhijab atau tidak berhijab, yang penting hatinya”.

Hey! Soal berhijab itu perintah Allah! Begitu juga soal sholat berjamaah di masjid dan merapatkan shaf, itu ajaran Rasulullah! Dengan berkomentar seperti itu, Anda telah meremehkan perintah Allah dan ajaran Rasulullah.

Soal ibadah, amalan dhohir dan amalan bathin tidak bisa dipisahkan. Apa yang tampak pada dhohir merupakan cerminan dari bathin. Sabda Rasulullah: “Ketahuilah bahwa pada jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, jika ia buruk maka buruklah seluruh jasadnya, ketahuilah itu adalah hati” (Shahih Bukhari)

Semoga Allah selalu melindungi kita dari kesesatan berfikir. Amiin.