Tentang Private Cloud & Pemanfaatannya di Dunia Enterprise

Beberapa waktu lalu, beberapa kawan dari MUGI Malang main ke rumah saya untuk sama-sama belajar tentang private cloud, baik itu secara konsep hingga teknis pembangunannya. Skenario sudah kami susun sebelumnya. Rencananya, kami akan menggunakan beberapa laptop sebagai physical server yang terhubung melalui LAN, menggunakan Windows Server 2012 dan System Center 2012.

Tidak ada kendala berarti selama proses instalasi Windows Server 2012, termasuk konfigurasi jaringan, domain, & Active Directory. Kendala mulai muncul saat instalasi System Center 2012. Ternyata, dalam proses instalasinya, masih dibutuhkan beberapa dependency yang berukuran sekian GB. Walhasil, kami angkat tangan. Karena nggak ada bandwidth ‘dewa’ masuk kamar saya, heheheheh.

Walaupun belum berhasil menyelesaikan instalasi private cloud dengan Windows Server 2012 dan System Center 2012, setidaknya kami sudah mengerti konsep-konsep dasar mengenai private cloud yang akan saya coba jabarkan di bawah ini.

Apa itu Private Cloud?

Gampangnya, private cloud adalah cloud platform yang dibangun di dalam jaringan intranet organisasi, dan digunakan hanya untuk kepentingan organisasi. Berbeda dengan public cloud yang digunakan untuk kepentingan komersil (disewakan). Salah satu contoh public cloud adalah Windows Azure.

Mengapa Private Cloud?

Bagi kebanyakan organisasi bisnis menengah ke atas, TI adalah penopang aktivitas bisnis. TI bermasalah, bisnis terhambat. Untuk itulah, penting menjaga agar TI selalu dalam kondisi prima, high-availability. Akan tetapi, untuk menjaga agar TI selalu dalam kondisi high-availability sering kali diperlukan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan bisnis yang dinamis, terkadang TI juga dituntut untuk melakukan transformasi secara cepat. Dan pada model TI konvensional, transformasi ini pun terkadang memakan biaya yang tidak sedikit.

Private cloud adalah model baru mengenai bagaimana pemanfaatan resource TI pada organisasi agar mendapatkan benefit-benefit cloud computing:

Pooled Resources

Pada datacenter tradisional, beberapa server berdiri sendiri untuk menjalankan aplikasi tertentu. Beda aplikasi atau beda kebutuhan sistem operasi, akan membutuhkan server yang berbeda pula. Karena sistem operasi yang berbeda itu harus dijalankan di server fisik yang berbeda. Sementara itu, sering kali utilitas penggunaan server tersebut rendah, sehingga penggunaan server sangat tidak efisien. Selain itu, karena membutuhkan beberapa server, otomatis juga membutuhkan space ruangan yang lebih. Belum lagi kalau ternyata utilitas salah satu server sudah diatas 80% dan butuh upgrade. Untuk meng-upgrade, kadang server harus berhenti beroperasi. Atau malah sebelum di-upgrade sudah hang duluan. Sehingga mengakibatkan downtime tinggi. Dan downtime adalah cost bagi perusahaan karena menyebabkan aktivitas bisnis terganggu.

Model datacenter tradisional ini juga akan sulit dikembangkan secara fleksibel mengikuti kebutuhan bisnis yang dinamis di tengah persaingan bisnis yang serba ketat seperti sekarang ini.

Lalu muncul teknologi virtualisasi, yang banyak digunakan di datacenter masa kini. Solusi virtualisasi ini memang meningkatkan utilitas server, sehingga utilitas penggunaan server menjadi lebih maksimal dan efisien. Dari sisi jumlah, server fisik yang dibutuhkan akan semakin sedikit. Tentunya akan menghemat ruangan serta biaya pengadaan, operasional, dan perawatan. Tapi potensi masalah masih ada. Jika salah satu server fisik bermasalah, maka semua server virtual didalamnya akan ikut bermasalah. Juga jika terjadi masalah pada network. Masalah-masalah ini berpotensi menyebabkan downtime. Dan, sekali lagi, downtime adalah cost bagi perusahaan karena menyebabkan aktivitas bisnis terganggu.

Beberapa waktu belakangan ini teknologi cloud computing hadir sebagai solusi mengatasi permasalahan-permasalahan pada model-model TI sebelumnya. Teknologi cloud computing menciptakan sebuah lapisan abstrak diatas seluruh resource (server, storage, networking) sehingga memungkinkan kita untuk mengembangkan resource virtual diatas lapisan abstrak tersebut dengan dinamis & skalabel. Resource virtual yang dibangun diatas lapisan abstrak tersebut dapat berupa virtual machine, virtual network, virtual storage, dan bahkan aplikasi. Semuanya dapat dibangun dengan skalabilitas & ketersediaan yang tinggi. Gampangnya, diatas lapisan abstrak tersebut kita dapat mengembangkan kapasitas storage atau kemampuan server sesuai kebutuhan kita, semudah seperti membesarkan volume suara TV kita.. 🙂

cloud_platform

High Availability

Dengan adanya resource pooling, semua resource virtual yang berjalan diatas lapisan abstrak tersebut tak perlu dimatikan dulu jika ada upgrade server fisik atau penambahan resource fisik lainnya. Bahkan, andaikata salah satu atau beberapa resource fisik mati, resource virtual yang berjalan diatas lapiran abstrak tersebut masih dapat berjalan dengan baik dengan memanfaatkan resource fisik yang masih hidup. Sehingga downtime dapat ditekan serendah mungkin.

Elastic

Semua resource yang berjalan diatas lapisan abstrak tersebut dapat di’kembang-kempis’kan dengan cepat sesuai dengan kebutuhan, baik secara otomatis maupun manual. Jadi tidak ada ceritanya aplikasi mandeg karena server overload, atau server yang hidupnya tidak efisien karena utilitasnya dibawah 30%.

Siapa yang Paling Tepat Menerapkan Private Cloud?

Organisasi apapun bisa menerapkan private cloud. Akan tetapi, private cloud paling tepat dan paling terasa manfaatnya jika diterapkan oleh organisasi yang telah menggunakan TI sebagai business driver atau business enabler, bukan sekedar sebagai support.

Jika organisasi seperti UKM ingin mendapatkan benefit dari cloud computing, mereka bisa memanfaatkan layanan public cloud yang disediakan oleh beberapa provider seperti Windows Azure. Dengan menggunakan public cloud, UKM tak perlu investasi besar pada server, storage, & infrastruktur lainnya.

Atau bisa juga sebuah organisasi menerapkan keduanya, baik private cloud dan public cloud. Misalnya, aplikasi yang berhubungan dengan aktivitas internal organisasi dan partner dijalankan di dalam private cloud, sementara aplikasi yang berhubungan dengan customer dijalankan di public cloud. Skenarionya bebas dan fleksibel. TInggal bagaimana sang arsitek merancang agar penggunaan TI untuk kebutuhan bisnis organisasi dapat digunakan seefisien dan seefektif mungkin, sehingga biaya TI dapat ditekan serendah mungkin dan revenue meningkat.

Kesimpulan

Hmm, kesimpulannya, dahaga saya dan beberapa teman belum terpuaskan karena belum bisa belajar membangun private cloud hingga tuntas.. XD

Yang penting, semoga tulisan saya bermanfaat.. 😉