Arsip Bulanan: September 2011

Membuat Virtual Host di IIS

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membahas bagaimana membuat virtual host di XAMPP. Kali ini, saya akan membahas bagaimana membuat virtual host di IIS. Fungsinya sama dengan virtual host di XAMPP, yaitu untuk memasang beberapa website sekaligus di satu server, tapi dengan nama domain yang berbeda untuk setiap website.

Pada pembahasan kali ini, spesifikasi yang saya gunakan adalah:  Lanjut membaca

Instalasi IIS (Internet Information Services)

IIS (Internet Information Services) adalah sebuah web server buatan Microsoft yang berjalan di Windows. Kali ini, saya akan membahas bagaimana melakukan instalasi IIS di Windows client (Windows 7, Windows 8, Windows 8.1). Proses instalasi di Windows Server akan agak sedikit berbeda.

Prosesnya instalasinya sangat mudah:

  1. Buka Control Panel -> Programs -> Programs and Features.
  2. Klik Turn Windows features on or off.
  3. Tunggu muncul window Windows Features.
  4. Centang Internet Information Services, dan Internet Information Services Hostable Web Cores.
  5. Klik OK, dan tunggu hingga selesai.
 Nah, sampai pada tahap ini, jika tidak ada error, maka IIS berhasil di install. Kita bisa membuka IIS Manager dengan melalui Run -> inetmgr.

Menginstall IIS dan XAMPP Dalam Satu Server

Jika kita ingin menggunakan IIS dan XAMPP (Apache) dalam satu server, maka port salah satu (Apache atau IIS) harus diubah. Secara default, keduanya menggunakan port 80 untuk protokol HTTP, dan port 443 untuk HTTPS. Dalam kasus ini, saya akan mengganti port default Apache menjadi 8008 untuk HTTP, dan 8009 untuk HTTPS.
  1. Buka httpd.conf, ada di folder xamppapacheconfhttpd.conf
  2. Cari “Listen 80“, ubah ke “Listen 8008
  3. Cari “ServerName localhost:80″, ubah ke “ServerName localhost:8008
  4. Lalu buka httpd-ssl.conf, ada di folder xamppapacheconfextrahttpd-ssl.conf
  5. Cari “Listen 443″, ubah ke “Listen 8009
  6. Cari “<VirtualHost _default_:443>”, ubah ke “<VirtualHost _default_:8009>
  7. Cari “ServerName localhost:443″, ubah ke “ServerName localhost:8009
  8. Restart Apache.

Menggunakan Blogger dengan Domain Sendiri

Pada saat kita mendaftar ke Blogger, format URL yang diberikan pertama kali adalah [username].blogspot.com atau [username].wordpress.com. Tentunya bagi sebagian orang akan tampak nggak keren karena masih menggunakan embel-embel blogspot.com atau wordpress.com. Nah, supaya tampak lebih ‘wah’, sebagian orang ingin menggunakan domain sendiri.

Untuk dapat menggunakan blog dengan domain sendiri, ada dua cara. Yang pertama adalah dengan membeli domain + webhostingnya kemudian menginstall WordPress atau blog lain di servernya. Yang kedua, tentunya lebih murah, adalah dengan membeli domain saja, kemudian dengan sedikit setting di provider blog (Blogger atau WordPress) untuk dapat menggunakan Blogger atau WordPress dengan domain sendiri.

Yang akan saya bahas pada tulisan ini adalah bagaimana cara menggunakan Blogger dengan domain sendiri. Karena untuk WordPress, saya lebih suka menggunakan self-hosted daripada menggunakan wordpress.com.

1. Mendaftar Domain

Untuk memiliki domain sendiri, tentunya kita harus mendaftar. Banyak layanan-layanan registrar domain yang bisa kita gunakan. Biaya per tahunnya pun bervariasi, antara 70.000 rupiah, hingga 150.000 rupiah per tahun. Tergantung nama top-level domain yang dipilih dan tergantung penyedia layanannya juga. Salah satu penyedia layanan webhosting yang juga melayani registrasi domain yang bagus, murah, dan pelayanannya memuaskan menurut saya adalah Jetdino.

2. Setting di Blogger

Setelah kita memiliki nama domain sendiri, maka kita perlu untuk menghubungkan domain yang kita miliki dengan Blogger. Tahap pertama adalah melakukan setting di Blogger.  Setelah login ke Blogger, masuk ke bagian Setting. Di bagian Publishing, klik +Add a custom domain. Sebenarnya dari situ kita dapat langsung mengetikkan domain, tapi domain yang diketikkan disitu merupakan domain yang akan didaftarkan di Google dengan biaya USD10 per tahun. Tentunya membayarnya juga harus ke Google. Tapi karena kita telah memiliki domain sendiri yang telah kita daftarkan di tahap pertama tadi, maka klik Switch to advanced setting. Disitu kita bisa langsung ketikkan nama domain kita, misalnya namadomain.com. Di pilihan Use a missing files host? silahkan pilih No saja. Pilih Yes jika kita memiliki webhosting di domain yang sama, dan kita menggunakan subdomain dari domain kita untuk meletakkan file-file blog kita, dan membiarkan Blogger mencari ke subdomain kita bila ada missing files. Kemudian klik Save untuk menyimpan setting kita.

3. Setting di Domain Manager  

Setelah melakukan setting di Blogger, saatnya kita mengarahkan domain kita ke Blogger. Setelah login ke domain control panel yang disediakan oleh layanan registrar tempat kita mendaftar pada langkah 1, maka cari pengaturan untuk CNAME atau kalau di cPanel adalah Simple DNS Zone Editor. Setelah ketemu, tambahkan CNAME record dengan name www dan CNAME ghs.google.com.
Setelah kita selesaikan tiga langkah mudah tadi, maka ketika kita mengetikkan alamat http://www.namadomain.com maka akan lari ke blog kita di Blogger.

Bagaimana jika kita ingin menggunakan subdomain saja untuk Blogger?

Untuk menggunakan subdomain, caranya juga cukup mudah. Di langkah kedua di atas, maka kita isikan alamat subdomain kita. Misalnya blog.namadomain.com. Kemudian di langkah ketiga, saat setting CNAME, maka field Name kita isikan blog, dan field CNAME tetap ghs.google.com.

nVidia CUDA & Video Encoding

nVidia CudaVideo encoding merupakan suatu proses pengubahan format video untuk keperluan atau memenuhi spesifikasi tertentu dengan menggunakan software video encoder. Proses ini biasa disebut juga video conversion.

Proses encoding ini begitu banyak memakan resource hardware, terutama prosesor. Semakin mumpuni sebuah prosesor, tentu akan semakin cepat proses encoding dan semakin baik kualitas video hasil encoding.

Beberapa waktu yang lalu (nggak tau persisnya kapan, hhee), nVidia merilis teknologi CUDA (Computer Unified Device Architecture), yaitu teknologi parallel computing dari nVidia. Selama ini, pemrosesan hanya terpusat di prosesor (CPU) saja. Nah, teknologi CUDA memungkinkan para developer untuk merancang software yang berbasis parallel computing, dengan memanfaatkan CPU dan GPU (Graphic Processing Unit) sekaligus untuk pemrosesannya.

Kembali ke proses encoding video, tentunya akan sangat menyenangkan kalau kita bisa memanfaatkan teknologi ini untuk pekerjaan kita. Dengan menggunakan teknologi CUDA ini, performa pemrosesan bisa naik hingga 18 kali lipat.

Biasanya, saya melakukan encoding dengan menggunakan software Canopus ProCoder versi 2 atau 3. Rencananya, saya akan menggunakan kartu berbasis nVidia CUDA.  Tapi saya belum tau dan masih mencari tau, apakah Canopus Procoder 3 menggunakan teknologi CUDA atau tidak. Tapi yang pasti, software TMPGEnc 4.0 Express sudah mendukung teknologi ini. Kalau nanti ternyata ProCoder 3 nggak support, ada kemungkinan kita migrasi ke TMPGEnc 4.0 Express untuk menggantikan ProCoder 3, hhee.. 😀

Mungkin masih ada yang bertanya-tanya, bagaimana sih teknologi CUDA bekerja?

Teknologi CUDA adalah salah satu teknologi parallel computing, dimana pemrosesan suatu proses dilakukan secara parallel. Dalam kasus video encoding saya, selama ini saya hanya membebani kepada CPU AMD Athlon X2 dual-core saya aja. Nah, nanti jika sudah terpasang graphic card CUDA, dan software encoding yang digunakan mendukung, maka proses encoding nanti akan ditangani secara parallel oleh CPU sekaligus GPU. Ini akan meningkatkan performa dan kualitas video hingga beberapa kali lipat.

CUDA, yang bekerja pada bahasa pemrograman C memang dirancang untuk memaksimalkan kinerja GPU untuk memecahkan kompleksitas yang terdapat pada proses kumputasi. Teknologi ini memaksimalkan proses pengolahan gambar, video, rendering 3D, dan lain sebagainya. Dengan CUDA, encoding sebuah video dapat dijalankan lebih cepat sampai 400%.

Dulu saya pernah mencoba melakukan video encoding dengan beberapa komputer sekaligus, menggunakan jaringan dengan software DebugMode FrameServer. Jadi ada beberapa komputer yang saling bahu-membahu menyelesaikan satu pekerjaan. Bisa jadi mirip seperti itulah teknologi parallel computing.