Corsa 150/60-17 @ CBR150R

  • CBR150R
  • Corsa 150/60-17
  • Velg & arm ori





mengenal-sistem-ekonomi-kapitalisme

Sekilas Sistem Ekonomi Kapitalis

Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital (modal).

Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot uang” yang dikenal dengan lembaga perbankan. Oleh lembaga ini, sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”.

Lalu siapakah yang akan memanfaatkan uang di bank tersebut? Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit) dari bank, yaitu: fix return dan agunan. Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini. Siapakah mereka itu? Mereka itu tidak lain adalah kaum kapitalis, yang sudah mempunyai perusahaan yang besar, untuk menjadi lebih besar lagi.

Nah, apakah adanya lembaga perbankan ini sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa?

Yaitu dengan pasar modal. Dengan pasar ini, para pengusaha cukup mencetak kertas-kertas saham untuk dijual kepada masyarakat dengan iming-iming akan diberi deviden.

Siapakah yang memanfaatkan keberadaan pasar modal ini? Dengan persyaratan untuk menjadi emiten dan penilaian investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar dan sehat saja yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini.

Siapa mereka itu? Kaum kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan besar, untuk menjadi lebih besar lagi. Adanya tambahan pasar modal ini, apakah sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa lagi?

Cara selanjutnya yaitu dengan “memakan perusahaan kecil”. Bagaimana caranya? Menurut teori Karl Marx, dalam pasar persaingan bebas, ada hukum akumulasi kapital (the law of capital accumulations), yaitu perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil. Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mal yang besar. Dengan itu toko-toko itu akan tutup dengan sendirinya.

Dengan apa perusahaan besar melakukan ekspansinya? Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal. Agar perusahaan kapitalis dapat lebih besar lagi, mereka harus mampu memenangkan persaingan pasar. Persaingan pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah. Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti: pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, dsb. Lantas, dengan cara apa perusahaan besar dapat menguasai bahan baku tersebut? Lagi-lagi, tentu saja dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika perusahaan kapitalis ingin lebih besar lagi, maka cara berikutnya adalah dengan “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN). Kita sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti: sektor telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi, dsb. Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, karena hampir tidak mungkin rugi. Lantas bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan mendorong munculnya Undang-Undang Privatisasi BUMN. Dengan adanya jaminan dari UU ini, perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN tersebut. Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika dengan cara ini kaum kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan. Bagaimana cara mengatasinya?

Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor kekuasaan itu sendiri. Kaum kapitalis harus menjadi penguasa, sekaligus tetap sebagai pengusaha.

Untuk menjadi penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, sebab biaya kampanye itu tidak murah. Bagi kaum kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika kaum kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka hegemoni (pengaruh) ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan hegemoni ini. Namun, apakah masalah dari kaum kapitalis sudah selesai sampai di sini?

Tentu saja belum. Ternyata hegemoni ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup. Mereka justru akan menghadapi problem baru. Apa problemnya?

Problemnya adalah terjadinya ekses produksi. Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen. Lantas, kemana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya? Dari sinilah akan muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan hegemoni di tingkat dunia.

Caranya adalah dengan membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang yang padat penduduknya. Teknisnya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi).

Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaga andalannya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka caranya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya. Mereka harus membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya. Yaitu dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan lintas negara, di negara-negara sasarannya.

Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah. Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Apakah dengan membuka MNC sudah cukup? Jawabnya tentu saja belum. Masih ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi. Caranya? Yaitu dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.

Untuk melancarkan jalannya ini, kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.

Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi). Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah: UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dsb.

Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu. Dengan cara apa? Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah. Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai kurs mata uang lokalnya.

Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan sistem kurs mengambang bebas bagi mata uang lokal tersebut. Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?

Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas). Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya. Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka.

Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya.Cara selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan proses liberalisasi pendidikan di negara tersebut. Teknisnya adalah dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya.

Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan subsidi bagi pendidikannya. Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi. Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi.

Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya. Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah. Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan sarjana. Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara dan maunya digaji tinggi.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara hegemoni kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan intervesi UU. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain lagi. Nah, cara inilah yang akan menjamin proses intervensi UU akan dapat berjalan dengan mulus. Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan menempatkan penguasa boneka. Penguasa yang terpilih di negara tersebut harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum kapitalis dunia. Bagaimana strateginya?

Strateginya adalah dengan memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mau menjadi boneka. Sarana tersebut, mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi lembaga survey, hingga intervesi pada sistem perhitungan suara pada Komisi Pemilihan Umumnya.

Nah, apakah ini sudah cukup? Tentu saja belum cukup. Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru. Apa problemnya?

Jika hegemoni kaum kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah sukses, maka akan memunculkan problem baru. Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut. Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat. Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum kapitalis itu sendiri. Mengapa?

Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka. Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua? Di sinilah diperlukan cara berikutnya.

Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM. Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan pengembangan masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisionil maupun industri kreatif lainnya. Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil), agar tetap memiliki penghasilan.

Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Kaum kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini. Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu: masyarakat akan tetap memiliki daya beli, akan memutus peran pemerintah dan yang terpenting adalah, negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.

Sampai di titik ini kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”. Apakah kaum kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi? Jawabnya ternyata masih ada. Apa itu? Ancaman krisis ekonomi. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa ekonomi kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya krisis ini.

Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya. Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya. Apa itu?

Ternyata sangat sederhana. Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bailout) atau stimulus ekonomi. Dananya berasal dari mana? Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sebagaimana kita pahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari pajak rakyat. Dengan demikian, jika terjadi krisis ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya. Jawabnya adalah: rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.

Bagaimana dari semua ini? Kaum kapitalis akan tetap jaya dan rakyat selamanya akan tetap menderita. Dimanapun negaranya, nasib rakyat akan tetap sama.

“Yang Penting Hatinya”

Pagi ini saya update status:

Mengetahui kekuatan umat Islam itu mudah: Lihat saja jumlah jamaah sholat shubuhnya.

Dan mengetahui persatuan umat Islam juga mudah: Lihat saja bagaimana kerapatan shaf sholatnya.

Lalu sore ini ada komentar:

Belum tentu. Yg smpyn lihat hanya ibadah dzahir alias kulit, qalbunya belum.

Saya cukup menyayangkan komentar ini. Karena komentar ini ditulis oleh seseorang yang berkecimpung di dunia pendidikan, yang berkutat dengan ilmu, yang seharusnya tidak melontarkan komentar yang undervalued seperti ini.

Membaca komentar beliau, saya menyimpulkan bahwa menurut beliau jumlah jamaah sholat shubuh BELUM TENTU bisa jadi parameter kekuatan ummat Islam. Yang penting hatinya. Jika banyak muslim yang berpikiran seperti ini, maka tak heran apabila umat Islam gembos dalam menghadapi musuh-musuh Islam.

Sudah banyak cerita bahwa salah satu ketakutan tentara Yahudi adalah apabila jumlah jamaah shubuh sebanyak jumlah jamaah sholat jumat.

Oke, mungkin Anda menganggap cerita itu hoax belaka. Namun pernahkah Anda mendengar kisah Rasulullah yang mengancam akan membakar rumah lelaki muslim yang tidak berjamaah di masjid?

Kesimpulan berikutnya dari komentar beliau adalah, bahwa shaf sholat BELUM TENTU berpengaruh pada persatuan ummat. Yang penting hatinya. Padahal Rasulullah pernah bersabda, “Benar-benarlah kalian dalam meluruskan shaf, atau (jika tidak) niscaya Allah akan membuat perselisihan di antara wajah-wajah kalian.” (HR. Muslim No. 436).

Komentar itu senada pernyataan-pernyataan yang sering kita dengar soal hijab: “Mau berhijab atau tidak berhijab, yang penting hatinya”.

Hey! Soal berhijab itu perintah Allah! Begitu juga soal sholat berjamaah di masjid dan merapatkan shaf, itu ajaran Rasulullah! Dengan berkomentar seperti itu, Anda telah meremehkan perintah Allah dan ajaran Rasulullah.

Soal ibadah, amalan dhohir dan amalan bathin tidak bisa dipisahkan. Apa yang tampak pada dhohir merupakan cerminan dari bathin. Sabda Rasulullah: “Ketahuilah bahwa pada jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, jika ia buruk maka buruklah seluruh jasadnya, ketahuilah itu adalah hati” (Shahih Bukhari)

Semoga Allah selalu melindungi kita dari kesesatan berfikir. Amiin.

ws2003eol_-_featured

Menghitung Hari – Windows Server 2003/R2 End of Support

Sudah lebih dari setahun lalu Microsoft mengumumkan akan berakhirnya Windows Server 2003. Kini, tinggal menghitung hari saja hingga Microsoft benar-benar akan menghentikan dukungannya terhadap Windows Server 2003 pada 14 Juli 2015.

Apa artinya jika dukungan terhadap Windows Server 2003 berakhir?

No Updates

Di tahun 2013 Microsoft merilis HANYA 37 critical updates untuk Windows Server 2003/R2. Setelah 14 Juli 2015, tidak akan ada lagi update fitur maupun patch keamanan untuk Windows Server 2003/R2. Artinya, perusahaan yang masih menggunakan Windows Server 2003/R2 berpotensi menjadi sasaran empuk para pencari celah keamanan.

No Compliance

Sumber daya TI pada sebuah perusahaan secara rutin diaudit agar dapat selalu mendukung aktivitas bisnis. Salah satu subjek audit yang vital adalah tentang IT/IS Security.

Nah, perusahaan yang masih menggunakan Windows Server 2003/R2 setelah tanggal 14 Juli 2015 tidak akan lolos audit. Perusahaan seperti Visa atau MasterCard tidak akan bersedia bekerjasama dengan perusahaan yang masih menggunakan Windows Server 2003/R2 karena tidak compliance terhadap standar PCI.

No Safe Haven

Baik server virtual maupun fisik yang masih menggunakan Windows Server 2003/R2 dan Windows Small Business Server (SBS) 2003 setelah tanggal 14 Juli 2015 akan rentan dari sisi keamanan dan tidak akan lolos audit keamanan TI/SI.

Biaya operasional akan lebih tinggi untuk merawat hardware yang beranjak tua dan membeli perangkat-perangkat keamanan untuk melindungi server yang masih menggunakan Windows Server 2003/R2.

Migrasi Yuk!

Tidak ada alasan untuk menunda proses migrasi. Secara umum, proses migrasi pada perusahaan berskala SMB dapat berlangsung selama 30-60 hari untuk sistem operasi, dan sekitar 90 hari untuk keseluruhan aplikasi hingga semuanya berjalan normal.

Ada 4 langkah kunci untuk migrasi dari Windows Server 2003/R2. Proses dan langkah-langkah migrasi secara umum akan saya paparkan di halaman berikutnya.

Halaman: 1 | 2

dkim-spf

Menggunakan SPF dan DKIM Untuk Menghindari Masuknya Email ke Folder SPAM

Punya email dengan domain sendiri atau domain perusahaan?
Sebel karena email yang Anda kirim sering nyemplung ke folder spam tujuan?

Kalau iya, mungkin Anda lupa melakukan setting DKIM, atau minimal SPF pada domain Anda.

Meski Anda pengguna Office 365, Google Apps, Live Custom Domain, atau Zoho Mail yang berkirim email dari server mereka yang notabene sudah punya reputasi bagus, belum tentu email yang Anda kirim akan selamat sampai di inbox tujuan. Adakalanya akan nyemplung dulu ke folder spam.

Sender Policy Framework (SPF)

SPF adalah sebuah mekanisme validasi email sederhana yang memungkinkan mail server penerima mengecek apakah email yang diterima dari sebuah domain itu dikirim dari server yang diotorisasi oleh pemilik domain tersebut.

Mail server yang diotorisasi oleh sebuah domain didaftarkan pada sebuah domain dalam bentuk TXT record.

Email spam dan phising seringkali menggunakan akun email palsu. Jadi, pengecekan dengan SPF record dapat difungsikan sebagai salah satu mekanisme untuk menghindari spam.

DomainKeys Identified Mail (DKIM)

DKIM mirip seperti SPF, plus memvalidasi bahwa email (termasuk lampirannya) tidak dimodifikasi di tengah jalan. Mekanisme DKIM melampirkan digital signature pada email yang dikirim agar dapat divalidasi oleh mail server penerima dengan public key milik mail server pengirim yang terpublikasi di DNS.

Perbedaan SPF dan DKIM

Mudahnya, SPF memvalidasi hanya ‘amplopn’ya saja (alamat pengirim dan server yang digunakan untuk mengirim), tanpa memvalidasi header dan kontennya.

Sedangkan DKIM, selain memvalidasi ‘amplop’nya, dia juga memvalidasi signature yang terdapat pada header dan konten email.

Berikut ini screenshot Gmail saya yang menerima email dari blog ini melalui Mandrill.

Penjelasan lebih rinci dan bagaimana cara validasi menggunakan SPF dan DKIM akan saya jelaskan di halaman berikutnya.

Halaman: 1 | 2 | 3

Lalu kau mau bilang apa?
Mau berkelana saja bermodalkan rupa?
Sementara semua orang sudahlah sama?
Kau aku kita mereka semua ke alam baka?

Wahai, tak kah kau sudi sadari?
Wajahmu yang kau bangga-banggai
Bukanlah buatanmu bahkan seujung mimpi
Itu akan jadi busuk mengerikan saat kau mati

Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka, ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Yaa Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal salih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”.

–Al Qur’an as As-Sajdah ayat 12

Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan.

–Al Qur’an Surah As-Sajdah ayat 14

Sumber: Unggah Seluler – Abutaqi Machiky Mayestino TrionoSoendoro